Praktik Baik Transformasi Pendidikan di SMAN 1 Kartasura pada Implementasi Pembelajaran Mendalam dan Strategi Pembelajaran Melalui Pemahaman Gaya Belajar

Diposting oleh 10 Dec 2025

KARTASURA - Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Kartasura Suharja, S.Pd., M.Si. Menjelaskan gambaran komprehensif kondisi mutu pendidikan, arah transformasi sekolah, serta strategi penguatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) di SMA Negeri 1 Kartasura. Paparan diawali dengan analisis Temuan Rapor Pendidikan 2025 yang menunjukkan capaian literasi dan numerasi relatif tinggi, namun masih terdapat tantangan pada aspek karakter, kualitas pembelajaran, serta kebinekaan. Data tersebut diperkuat dengan temuan kualitatif berupa belum kuatnya budaya refleksi sejawat, terbatasnya kolaborasi lintas mata pelajaran, kepemimpinan instruksional yang perlu diperkuat, serta pemanfaatan teknologi digital yang belum optimal untuk kolaborasi dan dokumentasi pembelajaran.

Berdasarkan temuan tersebut, disusun alur dasar pola pikir proyek perubahan yang menekankan pembelajaran berpusat pada murid, pendidik reflektif dan kolaboratif, kepemimpinan berkelanjutan, serta penciptaan iklim sekolah yang aman, inklusif, dan menghargai kebinekaan. Seluruh proses transformasi diarahkan melalui pemanfaatan data sebagai dasar pengambilan keputusan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan secara berkelanjutan.

Berbagai upaya strategis sekolah, antara lain peningkatan kualitas pembelajaran intra, ko, dan ekstrakurikuler, penyelarasan visi–misi–tujuan (VMT) sekolah berbasis Deep Learning, peningkatan kompetensi guru melalui pembinaan dan pendampingan, penguatan kemitraan pembelajaran, optimalisasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Lulusan, serta penyesuaian RKAS berbasis kearifan lokal dan MPMBS. Seluruh upaya tersebut dirancang selaras dengan kebijakan revitalisasi sekolah dan inovasi pengembangan RKAS 2026.

Sebagai kerangka kerja utama transformasi, diperkenalkan model INSPIRA (Internalize Knowledge, Nurture Capacity, Synergize Collaboration, Practice Meaningfully, Illuminate Best Practice, Resonate Dissemination, dan Activate Changemakers). INSPIRA diposisikan sebagai pendekatan sistemik untuk mendorong pembelajaran mendalam melalui internalisasi pengetahuan, penguatan kapasitas profesional guru, kolaborasi lintas peran, praktik pembelajaran bermakna, dokumentasi dan diseminasi praktik baik, hingga pemberdayaan agen perubahan di lingkungan sekolah. Model ini diperkuat dengan pemanfaatan teknologi digital mobile-friendly sebagai sarana pembelajaran adaptif dan kontekstual.

selanjutnya menegaskan visi baru SMA Negeri 1 Kartasura “CERDAS DIGDAYA”, yaitu mewujudkan satuan pendidikan yang inovatif, kolaboratif, reflektif, dan ramah digital untuk menghasilkan lulusan unggul, berwawasan lingkungan, berkelanjutan, dan berakar pada budaya bangsa Indonesia. Visi ini menjadi dasar penyelarasan misi, tujuan strategis, dan seluruh program sekolah, menggantikan visi lama agar lebih relevan dengan tantangan abad ke-21.

Secara rinci, dipaparkan delapan misi sekolah, yang mencakup pengembangan ekosistem pembelajaran mendalam, penguatan budaya riset, literasi dan numerasi, peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan, integrasi teknologi digital dan kecerdasan buatan secara etis, penumbuhan kepedulian lingkungan dan keberlanjutan, penguatan karakter berbasis budaya dan Profil Pelajar Pancasila, pembangunan jejaring kolaborasi strategis, serta penciptaan lulusan unggul dan berdaya saing global.

Bagian akhir memuat peran dan tanggung jawab strategis seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah sebagai pemimpin transformasi pembelajaran, guru sebagai pelaksana Pembelajaran Mendalam yang reflektif dan adaptif digital, tenaga kependidikan sebagai pendukung ekosistem layanan dan administrasi digital, OSIS/MPK sebagai agen perubahan budaya positif, hingga siswa sebagai pembelajar aktif, reflektif, dan berkarakter. Rekomendasi akhir menegaskan pentingnya sinergi seluruh elemen sekolah untuk mewujudkan visi CERDAS DIGDAYA secara berkelanjutan.

Seminar praktik baik pembelajaran yang disampaikan oleh Annisa Nur Solikha, S.Pd., Guru Bimbingan dan Konseling SMA Negeri 1 Kartasura, dengan tema “Strategi Pembelajaran melalui Pemahaman Gaya Belajar (Personalized Learning)”. Seminar ini bertujuan memberikan pemahaman kepada pendidik mengenai pentingnya mengenali gaya belajar peserta didik sebagai dasar perancangan pembelajaran yang lebih adaptif, inklusif, dan berpusat pada murid.

Pada bagian latar belakang, dijelaskan bahwa tuntutan pendidikan abad ke-21 mengharuskan sekolah meninggalkan pendekatan pembelajaran tradisional yang seragam. Setiap peserta didik memiliki perbedaan kemampuan, minat, karakteristik, dan gaya belajar. Oleh karena itu, pendekatan personalized learning dipandang sebagai strategi yang relevan untuk membantu siswa belajar secara optimal sesuai dengan potensi dan kebutuhannya masing-masing.

Praktik baik ini disusun menggunakan kerangka STAR (Situation, Task, Action, Reflection). Pada tahap Situation, ditemukan bahwa banyak peserta didik belum memahami gaya belajarnya sendiri berdasarkan hasil implementasi program 7 Jurus BK Hebat. Tahap Task mengidentifikasi tantangan utama berupa keterbatasan akses aplikasi asesmen gaya belajar (akupintar.id) serta keterbatasan waktu pelaksanaan. Pada tahap Action, guru BK melakukan identifikasi gaya belajar siswa melalui asesmen, kemudian mengarahkan guru dan siswa untuk menyesuaikan strategi pembelajaran berdasarkan hasil tersebut. Tahap Reflection menegaskan bahwa personalized learning membutuhkan peran aktif guru dalam mengamati, menganalisis, serta merancang pembelajaran yang variatif agar lebih responsif terhadap kebutuhan siswa.

Tujuan praktik baik ini meliputi:

  1. mengidentifikasi berbagai gaya belajar siswa berdasarkan model VAK (Visual, Auditori, Kinestetik),

  2. menjelaskan keterkaitan pemahaman gaya belajar dengan efektivitas penerapan personalized learning di sekolah, dan

  3. menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, adaptif, dan menyenangkan sehingga siswa dapat belajar secara optimal.

Dalam implementasinya, digunakan metode ARKA (Aktivitas, Refleksi, Konsep, Aplikasi). Peserta didik diajak melakukan aktivitas awal seperti ice breaking atau permainan, kemudian melakukan refleksi atas aktivitas yang telah dilakukan. Selanjutnya guru memberikan konsep berupa materi dan tautan tes gaya belajar, dan pada tahap aplikasi, peserta didik diarahkan untuk merencanakan strategi belajar yang sesuai dengan hasil asesmen gaya belajarnya.

Hasil implementasi menunjukkan dampak positif yang signifikan bagi peserta didik. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan mudah dipahami karena strategi belajar sesuai dengan gaya belajar masing-masing siswa. Motivasi dan kreativitas siswa meningkat, rasa percaya diri bertambah, serta kecemasan dan tekanan akademik berkurang. Selain itu, terbangun hubungan yang lebih positif antara guru dan siswa karena siswa merasa dihargai sebagai individu yang unik dengan kebutuhan belajar yang berbeda-beda.

Pada bagian kesimpulan, ditegaskan bahwa personalized learning merupakan pendekatan strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di era pendidikan modern. Dengan memahami gaya belajar peserta didik secara mendalam, guru dapat merancang pembelajaran yang lebih adaptif, relevan, dan bermakna. Pendekatan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan hasil belajar, tetapi juga menumbuhkan motivasi, kemandirian, dan kepercayaan diri siswa secara berkelanjutan.

 

Kategori : Berita Sekolah,